Showing posts with label seni kriya. Show all posts
Showing posts with label seni kriya. Show all posts

Sunday, February 6, 2011

KERAJINAN

Rajin : suka dan giat bekerja, selalu berusaha, getol.

Kerajinan : hal ( sifat ) rajin, kegetolan

Contoh :

Barang-barang kerajinan yaitu barang-barang hasil pekerjaan tangan.

Jadi dengan demikian yang dimaksud dengan Kerajinan Ukir adalah barang-barang ukiran atau hiasan yang dihasilkan oleh seseorang yang dalamperwujudannya memerlukan ketekunan, keterampilan, dan perasaan seni dengan cara di toreh / dipahat di atas kayu, batu, logam, gading, dsb. Sedangkan yang dimaksud dengan kerajinan ukir kayu adalah jenis kerajinan yang menggunakan teknik ukir pada bahan kayu.

Sedangkan teknik ukir adalah teknik pembuatan hiasan yang menggunakan alat berupa tatah / pahat ukir.

Seni Ukir merupakan gubahan dari bentuk-bentuk visual yang dalam pengolahannya mempunyai sifat kruwikan ( Jawa ) dengan susunan yang harmonis, sehingga memikiki nilai estetis. Seni ukir diujudkan melalui bahan kayu, logam, gading , batu dan bahan-bahan lain yang memungkinkan untuk dikerjakan. Adapun bentuk-bentuk gubahan tersebut merupakan stilisasi dari bentuk alam yang meliputi tumbuh-tumbuhan, binatang, awan, air, manusia, dsb.

Selanjutnya yang dimaksud dengan kerajinan adalah jenis kesenian yang menghasilkan berbagai macam perabot, hiasan atau barang-barang yang artistik, terbuat dari kayu, besi, porselin, emas, gading, kain tenunan, dsb. Hasil dari suatu kerajinan tangan juga di sebut seni guna

seni UKIR

Ukir ~ Juru ( pandai, tukang )Contoh: Tukang Ukir : Orang yang pekerjaannya mengukirMengukir : Menoreh ( menggores, memahat ) dsb.

untuk membuat lukisan ( gambar ) pada kayu, batu, logam,dsb.

Ukiran : ( ukiran-ukiran ) hiasan yang terukir.

Seni Ukir : seni pahat

PEMAHAMAN TENTANG SENI UKIR INDONESIA

Seni ukir atau ukiran merupakan gambar hiasan dengan bagian-bagian cekung (kruwikan) dan bagian-bagian cembung (buledan) yang menyusun suatu gambar yang indah. Pengertian ini berkembang hingga dikenal sebagai seni ukir yang merupakan seni membentuk gambar pada kayu, batu, atau bahan-bahan lain.

Bangsa Indonesia mulai mengenal ukir sejak zaman batu muda (Neolitik), yakni sekitar tahun 1500 SM. Pada zaman itu nenekmoyang bangsa Indonesia telahmembuat ukiran pada kapak batu, tempaan tanah liat atau bahan lain yang ditemuinya. Motif dan pengerjaan ukiran pada zaman itu masih sangat sederhana. Umumnya bermotif geometris yang berupa garis, titik, dan lengkungan, dengan bahan tanah liat, batu, kayu, bambu, kulit, dan tanduk hewan Pada zaman yang lebih dikenal sebagai zaman perunggu, yaitu berkisar tahun 500 hingga 300 SM. Bahan untuk membuat ukiran telah mengalami perkembangan yanitu menggunakan bahan perunggu, emas, perak dan lain sebagainya. Dalam pembuatan ukirannya adalah menggunakan teknologi cor. Motif-motif yang di gunakanpada masa zaman perunggu adalah motif meander, tumpal, pilin berganda, topeng, serta binatang maupun manusia. Motif meander ditemukan pada nekara perunggu dari Gunung merapi dekat Bima. Motif tumpal ditemukan pada sebuah buyung perunggu dari kerinci Sumatera Barat, dan pada pinggiran sebuah nekara (moko dari Alor, NTT. Motif pilin berganda ditemukan pada nekara perunggu dari Jawa Barat dan pada bejana perunggu darikerinci, Sumatera. Motif topeng ditemukan pada leher kendi dari Sumba. Nusa Tenggara, dan pada kapak perunggu dari danau Sentani, Irian Jaya. Motif ini menggambarkan muka dan mata orang yang memberi kekuatan magis yang dapat menangkis kejahatan. Motif binatang dan manusia ditemukan pada nekara dari Sangean.

Setelah agama Hindu, Budha, Islam masuk ke Indonesia, seni ukir mengalami perkembangan yang sangat pesat, dalam bentuk desain produksi, dan motif. Ukiran banyak ditemukan pada badan-badancandi dan prasasti-prasasti yang di buat orang pada masa itu untuk memperingati para raja-raja. Bentuk ukiran juga ditemukan pada senjata-senjata, seperti keris dan tombak, batu nisan, masjid, keraton, alat-alat musik, termasuk gamelan dan wayang. Motif ukiran, selain menggambarkan bentuk, kadang-kadang berisi tentang kisah para dewa, mitos kepahlawanan, dll. Bukti-bukti sejarah peninggalan ukiran pada periode tersebut dapat dilihat pada relief candi Penataran di Blitar, candi Prambanan dan Mendut di Jawa Tengah.

Saat sekarang ukir kayu dan logam mengalami perkembangan pesat. Dan fungsinyapun sudah bergeser dari hal-hal yang berbau magis berubah menjadi hanya sebagai alat penghias saja.pada ukiran kayu meliputi motif Pejajaran, Majapahit, Mataram, Pekalongan, Bali, Jepara, Madura, Cirebon, Surakarta, Yogyakarta, dan berbagai macam motif yang berasal dari luarJawa. Motif-motif

Kreasi dari Resin catalyst

Sudah mencoba kreasi dengan resin??
Jangan langsung buat produk yang besar, buat yang kecil-kecil dulu, seperti tempelan magnet untuk lemari es, jepitan memo, gantungan kunci, dan yang kecil-kecil lainnya.
Cara membuatnya juga tidak sesulit kita kira, paling hanya sedikit telaten saja, semua materialnya juga bisa beli di satu tempat (Toko kimia)

Resin dijual dengan bentuk cair. Dan terdapat dua jenis resin, resin butek (keruh) dan resin bening. Sebelum diolah, resin harus dicampur dengan KATALIS sehingga dapat mengeras dengan perbandingan katalis dan resin 1:10. Untuk dapat mengeras memerlukan waktu kurang lebih 30-45 menit (tergantung suhu ruang, makin dingin makin lama). Katalis dapat di perbanyak menjadi 2:10 atau 3:10 sehingga pengerasannya akan lebih cepat, akan tetapi biasanya hasil cetakannya menyusut atau bahkan bisa pecah. Untuk campuran katalis ideal tepatnya kurang tahu juga, bisa ditanya kepenjualnya ^^
Membuat kreasi resin dengan macam-macam bentuk, atau untuk membuat figure, dibutuhkan cetakan. Untuk membuat yang besar bisa menggunakan Slikon Rubber atau jika mau lebih murah meriah untuk benda-benda kecil bisa menggunakan lem kaca (lem aquarium)
Cara membuatnya:
- Sediakan model yang akan diperbanyak, dapat dibuat dahulu dari media clay atau benda-benda yang sudah jadi
- Tampung Slikon Rubber atau lem kaca ke wadah licin (dioles minyak dulu kalau mau) dan masukan produk yang mau di perbanyak dengan posisi dasar ada dibawah sehingga tertutup oleh cairan slikon.
- Biarkan Slikon mengeras,lalu lepas produk contoh dan wadah penampung
- Cetakan siap digunakan
(Note: hanya berlaku buat produk kecil yang 3D BUKAN 4D)
Dapat juga menggunakan cetakan es batu

Macam-macam Clay untuk kerajinan seni kriya

Lilin Malam

Ini juga termasuk ‘keluarga’ clay, biasanya untuk mainan anak-anak, banyak dijual di toko-toko buku bermacam-macam warna dan mudah dibentuk. Bentuk akhirnya tetap lunak tidak akan mengeras dan dapat diolah kembali.

Plastisin Clay

Hampir sama dengan Lilin malam hanya saja tidak selunak lilin malam dan lebih mantap bentuknya (lebih keras dibandingkan lilin malam)

Paper clay

Terbuat dari bubur kertas, kebanyakan dijual dengan warna putih dan ada juga dengan campuran gips (seperti kapur). Hasil akhirnya keras dengan cara diangin-anginkan dan di cat diberi warna (dapat juga sewaktu diulenin langsung ditambah warna).

Paper clay dapat dibuat sendiri dengan cara merendam kertas (caranya bisa di lihat posting sebelumnya perihal daur ulang koran)

Clay Tepung

Ini dapat dibuat sendiri dan cukup mudah dikerjakan bersama anak-anak.

Bahan yang diperlukan:

- Tepung terigu : tepung tapioka : tepung beras dengan perbandingan 1:1:1

- Lem kayu misalnya lem fox (atau sejenisnya)

- Sedikit natruim benzoat/pengawet makanan atau Borax juga nggak apa-apa kok ^_^ (ini gak wajib, jika ingin hasil tahan lama tidak berjamur)

- Cat poster/akrilic/cat air

- Pilox bening/cat kuku bening

Cara membuat:

Campur tepung, masukan lem sedikit demi sedikit hingga serasa pas dan tidak lengket ditangan

Bagi beberapa bagian (sesuai warna-warna yang diinginkan) dan campurkan sedikit demi sedikit cat sampai warna yang diinginkan tercapai

Clay tepung siap di bentuk

Angin-anginkan hingga kering

Dapat disemprotkan Pilox transparant atau dioles cat kuku agar lebih tahan lama

Clay Roti

Ini juga dapat di buat sendiri dari sisa-sisa roti

Bahannya:
- 1 lembar roti tawar (angin-anginkan dulu agar teksturnya agak kering)

- Lem kayu misalnya lem fox (atau sejenisnya)

- 1 sdt minyak sayur

- Sedikit natruim benzoat/pengawet makanan atau Borax (tidak wajib)

- Cat poster/acrilic/cat air

- Pilox tranparant/cat kuku bening


Cara membuat:
- Sobek-sobek kecil roti tawar
- Tambahkan lem dan uleni sampai agak kalis.
- Tambahkan minyak sayur dan pengawet, uleni sampai kalis

- Selanjutnya sama dengan membuat clay dari tepung

(diambil dari resepnya mbak Yoana di millis Manik2 Cantik)

Jumping Clay

Clay ini jika diangin-angin kan akan kering dan tidak dapat diolah lagi, hanya saja jadinya ringan seperti gabus. Dijual dengan berbagai macam warna didalam kantung alumunium foil (biasanya) cocok untuk dibuat menjadi boneka-boneka hewan atau manusia kecil

Air Dry Clay/clay jepang/clay korea

Hampir sama dengan jumping clay, hanya saja bentuk akhirnya lebih padat. Dijual dengan berbagai macam warna dan dibungkus dengan plastik kedap udara (biasanya). Cocok untuk membuat miniature buah-buahan, sayuran, makanan atau lainnya

Polymer Clay

Clay yang paling mahal, masih langka di Indonesia. Proses pengeringannya dengan cara di oven (bukan pakai oven kompor loh). Hasil akhirnya… Wah kaya bunglon tergantung jenis clay nya (bisa lihat di posting sebelumnya perihal polymer clay) mau seperti kayu, batu alam, metal atau plastik.

Clay Asli (Tanah Liat/Keramik)

Pasti semua tahu yang ini, clay asli dari alam untuk membuat tembikar. Cara pengeringannya setelah diangin-angin dibakar kedalam tungku.

Berdasarkan jenis nya

- Gerabah

- Keramik batu

- Porselin

- Keramik Baru

http://www.pppgkes.or.id/modules.php?name=Content&pa=showpage&pid=67


Clay Imitasi (???)

Tidak semua tahu perihal clay ini, Tha saja tidak tahu namanya (lupa) hehe. Yang pasti clay ini biasanya digunakan di pabrik-pabrik mobil atau industri besar lainnya untuk dijadikan model produk. Warnanya coklat tua dengan cara dipanaskan dahulu agar dapat dibentuk. Hasil akhirnya…. Lumayan kokoh, tapi masih bisa diolah lagi kalau dipanaskan ^_^

Gips

Ini termasuk keluarga clay bukan yah? Gips terbuat dari bahan kapur yang dikeraskan. Cara pembuatanya, adonan yang encer dicetak (menjadi pot, hiasan kulkas, pajangan, dll) diangin-angin kan lalu di cat. Atau dapat juga dipadatkan berbentuk balok, lalu di ukir menjadi patung, abstrak atau lainnya (jadi inget masa kuliah

contoh karya seni kriya manik gelang kalung 2

Apa yah istilah per-manik-an nya?? untuk "Kiwir-kiwir" disini yang dimaksud adalah punya banyak ekor tapi ukuran tiap helai tidak sama
Kebetulan semalam sedang menyusun file-file 3 tahun mulai berkreasi dengan manik-manik, ternyata yang spesial kebanyakan yang ada kiwir-kiwirnya. Banyak Kreasi Tha yabg belum sempat difoto sebelum berpindah tangan, Ini sebagian kreasi Tha yang sempat ter dokumentasi

1. Dibuat tahun 2006, masih sangat belum rapih dan desain yang standar, tapi ini yang pertama saya buat










2. Dibuat tahun 2007, biasanya saya hanya membuat kalung tidak lebih dari dua untuk desain yang sama, ini kalung yang paling banyak kembarannya berhubung pesanan untuk pagar ayu nikahan






3. Dibuat tahun 2008, sempat masuk tabloid dan dari 20 produk yang dipajang, ini jadi favorite pembaca (berhubung paling banyak di pesan) jadi lagi-lagi banyak kembaran.









4. Dibuat tahun 2008, Coba-coba ikutlomba dan kebetulan desain yang dipilih kiwir-kiwir juga, tapi jangankan masuk finalis masuk babak penyisihan juga nggak hehehe maklum dibuat 3 hari menjelang penutupan jadi kurang maksimal








5. Salah satu kreasi dibuku yang ada kiwir-kiwirnya juga













6. Dibuat Tahun 2009, Kreasi terakhir yang sempat masuk tv berhubung dipakai salah satu caleg kota Bandung, yang merupakan dosen saya, Ibu Mien saat acara bincang-bincang. Semoga sukses ya Bu.

Jenis Kalung kriya manik



































































Buku tentang kriya manik













Akhirnya keluar juga bukunya, sebenarnya sudah selesai saya susun dari akhir tahun 2007 berhubung banyak kendala ini dan itu maka tertunda penerbitannya. Kalau kata pihak penerbit baru kali ini ada kasih naskah berbentuk CorelDraw, aduh saya jadi merepotkan mereka ^_^
Terima kasih buat pihak Demedia Khususnya mbak Ayu, mbak Ningrum, mas Fameel dan yang lainnya yang telah memberi saya kesempatan menyusun buku ini.
Dan terkhusus untuk teman-teman yang sudah membeli buku perdana saya. Saya tunggu kritik dan saran nya maaf yah jika tidak maksimal menyusunnya dan masih banyak kekurangan dan kesalahan disana-sini, namanya juga buku perdana moga-moga saja dikemudian hari jika ada kesempatan lagi bisa membuat lebih baik

NB: Ada kesalah foto untuk halaman 49

Judul: Membuat Aneka Perhiasan dari Manik-manik
60 Halaman berwarna: 17,5 X 24 cm
Harga: ... Belum tahu





















Dibalik Buku
Mau curhat dikit nih, buat yang tidak berminat silahkan lewat ^.~

Saya penggemar buku keterampilan Jepang walau saya tidak mengerti tulisannya tapi dari gambar-gambar nya saya dapat membuat karya yang cantik seperti contoh. Pokok nya saya menantikan kapan lokal punya buku keterampilan seperti itu. Sempat juga curhat-curhat an di blog nya Putri yang "terdengar" mbak Tetti dari Demedia. Sempat gak pede juga waktu menerima ajakan kerja sama, mana EYD saya belepotan lagi hehe. Ya sudah cuek walaupun sempat deg deg an juga, belum lagi buku-buku membuat aksesoris di toko buku saat ini keluaran lokal sudah bagus-bagus banget.Kemungkinan kalau jalan-jalan ke toko buku, bakal jadi maluuuuu banget lewat ke bagian buku keterampilan hehehe norak.

Saking semangatnya yang dari dulu belajar Corel Draw nggak bisa-bisa eh kok mendadak bisa. Ada juga kendala, laptop yang biasa menemani saya saat itu kena sita, pinjam yang suami nggak mungkin juga dan mbak nya Diaz kena sita juga (hehe razia kali disita semua) Akhirnya setelah pinjam laptop kanan kiri dan mengungsi ke Bandung bisa juga mulai menyusun.
Tapi tetap saja anakku tidak rela mamanya cuekin dirinya (walaupun sudah ada mbak pengganti, nenek, kakek dan om) ya sudah saya baru mulai membuat buku setelah anakku tidur. Dan baru benar-benar kerja jam 12i malam sampai pagi dan tidur 4-5 jam pun masih diajakin main Diaz ...hix benar-benar kurang Vitamin T

Merawat manik-manik

Tips perawatan Aksesoris

  1. Usahakan aksesoris anda memiliki tempat sendiri, jangan satukan langsung ke satu tempat agar tidak kusut dan sulit mencarinya. Jika tidak memiliki tempat aksesoris yang berpetak-petak. Masukan terlebih dahulu kedalam kantong plastik secara terpisah (dapat menggunakan plastik obat)
  2. Hindari sedapat mungkin kontak langsung dengan air, sabun, handbody atau bahan kimia lainnya
  3. Simpan aksesoris di suhu ruang yang tidak terlalu panas dan lembab
  4. Hindari penyimpanan yang mengenai sinar matahari langsung (terutama untuk yang berbahan aklirik)
  5. Bersihkan aksesories yang bermaterial batu alam, mutiara atau manik gelas dengan baby oil

contoh karya seni kriya manik gelang kalung

kalung

Ini kalung terakhir tha buat, lagi senang bikin bandul disamping nih :)
Materialnya dari ring kerang, mutiara imitasi,manik gelas dan aklirik. Akliriknya lucu, kalau gelap bisa bersinar.









gelang

Ini salah satu gelang yang Tha buat. Lagi seneng bikin yang 2 lapis nih. Materialnya dari batu (imitasi keliatanya), manik gelas dan mutiara air tawar. Wire dan manik metal dipilih yang kuning bakar, biar agak antik gitu

Kalung set batu alam manik manik













Sebenarnya sih satu set, tapi gelangnya sudah ada yang beli duluan, tinggal anting-anting dan kalungnya menunggu pemilik baru.....
Materialnya dari batu alam kehijauan, dari hijau muda - hijau lumut tua, rada antik jadinya

Necklace sets of natural stone
First of all it was a set, but the bracelet has been sold, omitted the earrings and the necklace, they still waiting for their new owner....
The material is from the greenness natural stones, from a light green to old moss green, which make it look like an antique.

Seni kRiya anyaman

PENGERTIAN SENI KRIYA
• Seni Kriya Nusantara
A. Konsep Karya Seni Rupa Terapan
Bentuk kebudayaan yang paling sederhana muncul pada zaman batu. Hal tersebut berkaitan dengan tingkat kecerdasan, perasaan dan pengetahuan yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang dihadapi pada zaman itu. Untuk menunjang kelangsungan hidup, mereka membuat alat-alat dari bahan-bahan yang diperoleh di alam sekitar mereka. Sebagai contoh, kapak genggam dan alat-alat perburuan dibuat dari tulang dan tanduk binatang.
B. Pengertian Seni Kriya
Seni kriya sering disebut dengan istilah Handycraft yang berarti kerajinan tangan. Seni kriya termasuk seni rupa terapan (applied art) yang selain mempunyai aspek-aspek keindahan juga menekankan aspek kegunaan atau fungsi praktis. Artinya seni kriya adalah seni kerajinan tangan manusia yang diciptakan untuk memenuhi kebutuhan peralatan kehidupan sehari-hari dengan tidak melupakan pertimbangan artistik dan keindahan.
C. Unsur Karya Seni Kriya
Seni kriya mengutamakan terapan atau fungsi maka sebaiknya terpenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
1. Utility atau aspek kegunaan
Ø Security yaitu jaminan tentang keamanan orang menggunakan barang-barang itu.
Ø Comfortable, yaitu enaknya digunakan. Barang yang enak digunakan disebut barang terap. Barang-barang terapan adalah barang yang memiliki nilai praktis yang tinggi.
Ø Flexibility, yaitu keluwesan penggunaan. Barang-barang seni kriya adalah barang terap yaitu barang yang wujudnya sesuai dengan kegunaan atau terapannya. Barang terap dipersyaratkan memberi kemudahan dan keluwesan penggunaan agar pemakai tidak mengalami kesulitan dalam penggunaannya.
2. Estetika atau syarat keindahan
Sebuah barang terapan betapapun enaknya dipakai jika tidak enak dipandang maka pemakai barang itu tidak merasa puas. Keindahan dapat menambah rasa senang, nyaman dan puas bagi pemakainya. Dorongan orang memakai, memiliki, dan menyenangi menjadi lebih tinggi jika barang itu diperindah dan berwujud estetik.

D. Fungsi dan Tujuan Pembuatan Seni Kriya
1. Sebagai benda pakai, adalah seni kriya yang diciptakan mengutamakan fungsinya, adapun unsur keindahannya hanyalah sebagai pendukung.
2. Sebagai benda hias, yaitu seni kriya yang dibuat sebagai benda pajangan atau hiasan.
3. Sebagai benda mainan, adalah seni kriya yang dibuat untuk digunakan sebagai alat permainan.
E. Jenis-jenis Seni Kriya di Nusantara
1. Seni kerajinan kulit, adalah kerajinan yang menggunakan bahan baku dari kulit yang sudah dimasak, kulit mentah atau kulit sintetis. Contohnya: tas, sepatu, wayang dan lain-lain.
2. Seni kerajinan logam, ialah kerajinan yang menggunakan bahan logam seperti besi, perunggu, emas, perak. Sedangkan teknik yang digunakan biasanya menggunakan sistem cor, ukir, tempa atau sesuai dengan bentuk yang diinginkan. Contohnya pisau, barang aksesoris, dan lain-lain.
kerajinan dari besi
kerajinan dari perunggu
kerajinan dari emas
kerajianan dari perak
3. Seni ukir kayu, yaitu kerajinan yang menggunakan bahan dari kayu yang dikerjakan atau dibentuk menggunakan tatah ukir. Kayu yang biasanya digunakan adalah: kayu jati, mahoni, waru, sawo, nangka dan lain-lain. Contohnya mebel, relief dan lain-lain.
relief
topeng
mebel khas palembang
4. Seni kerajinan anyaman, kerajinan ini biasanya menggunakan bahan rotan, bambu, daun lontar, daun pandan, serat pohon, pohon pisang, enceng gondok, dll. Contohnya: topi, tas, keranjang dan lain-lain.
5. Seni kerajinan batik, yaitu seni membuat pola hias di atas kain dengan proses teknik tulis (casting) atau teknik cetak (printing). Contohnya: baju, gaun dan lain-lain.
6. Seni kerajinan keramik, adalah kerajinan yang menggunakan bahan baku dari tanah liat yang melalui proses sedemikian rupa (dipijit, butsir, pilin, pembakaran dan glasir) sehingga menghasilkan barang atau benda pakai dan benda hias yang indah. Contohnya: gerabah, piring dan lain-lain.
JENIS SENI KRIYA ANYAMAN
 Sejarah dan Perkembangan
Anyaman merupakan seni tradisi yang tidak mempunyai pengaruh dari luar. Perkembangan Sejarah anyaman adalah sama dengan perkembangan seni tembikar. Jenis seni anyaman pada masa Neolitik kebanyakan adalah menghasilkan tali, rumah dan keperluan kehidupan. Bahan daripada akar dan rotan adalah bahan asas yang awal digunakan untuk menghasilkan anyaman. Menurut Siti Zainun dalam buku Reka bentuk kraftangan Melayu tradisi menyatakan pada zaman pemerintahan Long Yunus (1756-94) di negeri Kelantan, penggunaan anyaman digunakan oleh raja. Anyaman tersebut dipanggil ‘Tikar Raja’ yang diperbuat daripada pohon bemban.
Sehingga kini beberapa negeri masih terus aktif menjalankan kegiatan anyaman di peringkat kampung. Antaranya di daerah Rusila, Dungun, Kampung Ru Renggoh, Kampung Kijing, Cendering dan Kuala Ibai di negeri Terengganu. Negeri-negeri lain yang masih terdapat aktiviti anyaman ialah negeri Perlis, Kedah, Perak, Selangor, Negeri Sembilan, Pahang, Melaka, Sarawak dan Sabah.

 TEKNIK ANYAMAN ROMBONG
Benda-benda kebutuhan hidup sehari-hari, seperti keranjang, tikar, topi dan lain-lain dibuat dengan teknik anyam. Bahan baku yang digunakan untuk membuat benda-benda anyaman ini berasal dari berbagai tumbuhan yang diambil seratnya, seperti bamboo, palem, rotan, mendong, pandan dan lain-lainPerkembangan zaman belum tentu selalu meninggalkan produk hasil perkembangan tempo dulu. Kerajinan bambu salah satunya.Dengan semakin meningkatnya berbagai macam jenis bahan material dan bentuknya, ternyata tidak serta merta mengurangi minat masyarakat akan produk warisan zaman dulu, contohnya adalah kandang ayam dari bambu. Meskipun begitu untuk menemukan bahan baku dalam membuat kandang ayam, seperti anyaman kawat dan besi juga tidak terlalu sulit.Akan tetapi, dengan kemajuan yang ada tersebut ternyata produk kerajinan dengan bahan baku bambu masih memiliki peminat yang cukup banyak. misalnya gedheg yang merupakan anyaman bambu baik dengan motif atau polos menjadi daya tarik tersendiri bagi orang-orang tertentu untuk menggunakannya sebagai bahan dinding dan plafon.

Melayur Daun
Daun mengkuang dilayur di atas bara api sehingga menjadi kekuningan. Ia dilakukan untuk menjadikan daun itu lembut dan tahan lama. Di samping itu ia dapat memudahkan proses menjangka.

Menjangka
Daun mengkuang dibelah dengan bilah yang sama saiz dengan menggunakan jangka.


Merendam
Daun-daun tersebut digulung dalam satu ikatan untuk direndam dalam suatu ikatan untuk direndam di dalam air biasa selama 2 hari. Semasa rendaman, air akan ditukar sebanyak ditukar sebanyak dua kali sehari. Rendaman ini dilakukan untuk melunturkan warna asal daun.


Menjemur
Setelah direndam, daun-daun tersebut akan dijemur sehingga menjadi putih kekuningan. ini dilakukan bagi memudahkan proses melurut
.
Mewarna
Daun-daun mengkuang yang telah kering dicelup ke dalam pencelup warna mengikut kesesuaian rekacorak rombong. Selepas diwarnakan, ia akan dikeringkan di bawah sinaran matahari.

Melurut
Proses melurut dilakukan bagi menjadikan daun mengkuang cantik dan tetap kembang. Sekiranya proses melurut tidak dilakukan, daun akan menjadi keras dan sukar dianyam.



Menganyam
Proses menganyam bermula dengan membuat "Pusat Belanak" iaitu menganyam enam helai daun secara jelujur dan melintang. Helaian daun yang ditambah serta bilangan langkah anyaman menentukan saiz sesebuah rombong.

Menaja
Jalinan daun dianyam sehingga membentuk tapak yang berbentuk bulat. Bingkai yang diperbuat daripada kulit pelepah disisip ke tapak rombong untuk memperkuatkan tapak yang telah dianyam. Seterusnya anyaman dinaikkan ke atas untuk membuat badan bakul.

Sulam/Mencolek Bunga
Alat penyisip disisipkan bersama daun berwarna sehingga menembusi sebahagian bawah anyaman sambil meninggalkan kesan sisipan pada rombong. Setelah siap, bahagian tudung atau penutup rombong dianyam serupa seperti bahagian badan rombong.

Manik-manik, Material seni kriya mutiara jewellery




Siapa sih yang tidak suka sama mutiara, khususnya untuk kaum hawa kebanyakan akan menyukainya. Mutiara dengan desain dan warna klasik memberi kesan angun bagi pemakainya. Mutiara juga cocok untuk segala umur entah itu mutiara asli maupun mutiara sintetis. Disini saya akan membahas soal mutiara yang sebagian di sadur dari
www.dkp.go.id wwww.pearl-guide.com www.mutiara-mutiara.blogspot.com dan www.blog.lautku.com


Mutiara banyak ragam maupun jenisnya. Entah itu mutiara sintetis/imitasi atau mutiara alami. Selain mutiara asli, saya juga suka mutiara sintetis, Selain warna dan bentuknya beragam saat ini pelapisan luarnya semakin cantik dan menyerupai mutiara aslinya.
Mutiara imitasi merupakan mutiara buatan manusia yang dibuat dari plastik, kaca, resin, keramik atau kulit kerang. Saat ini teknik pelapisan mutiara imitasi semakin beragam, walau semakin bagus dan menarik tetapi bentuk dan kilapannya semakin menjauhi mutiara asli nya. Tapi para penjual tetap menyebut mutiara (imitasi) ^_^

Pelapisan luar mutiara imitasi antaranya:
- Glitter : Permukaan luarnya dilapisi kilauan bubuk glitter
- Semi transparent : Lapisan tipis agak tembus pandang
- Tekstur: Permukaan yang tidak rata terdapat kerutan yang menyerupai kulit jeruk,
- Matte : Permukaan agak kusam
- Metalic : Memberi efek menyerupai metal
- Glossy : Mengkilap (seperti bibir yang kebanyakan makan gorengan ^_^)

Mutiara Asli Alami dan Mutiara Budidaya
Untuk mutiara asli juga di bagi dua, mutiara air laut (alami) dan mutiara air tawar(budi daya). Mutiara air laut sudah mulai jarang ditemukan sehingga harganya saat ini sangat mahal.
Kategori mutiara berdasarkan bentuknya, antaranya:
Round (bulat)
Drop (tetesan)
Coin/button (kancing)
Oval
Semi-round (semi bulat)
Circle/ring (lingkaran)
Baroque (tidak beraturan)
Stick (panjang)
Potato













Kerang penghasil mutiara
Umumnya berasal dari famili Pteriidae. Yang dikenal antaranya:
- Pinctada maxima (kerang mutiara bibir emas atau bibir perak) Penghasil mutiara Queen Of Pearls yang terdapat di Australia, Indonesia, myanmar, Vietnam dan Filiphina
- Pinctada margaritifera (kerang mutiara bibir hitam) Hasil dari mutiara yang paling dikenal ialah mutiara Tahiti/mutiara hitam,





- Pinctada Fucata Martensii (Penghasil mutiara klasik jepang Akoya)
- Pteria penguin merupakan kerang yang tidak dapat menghasilkan mutiara yang utuh, mutiara yang dihasilkan yaitu Mutiara Blister (hanya memiliki satu sisi yang dilapisi mutiara) dan untuk membentuk Mutiara Mabe (mutiara yang dilekatkan pada mother of pearl/lapian dalam kerang)
- The winged-pearl oyster/Koji Wada (kerang mutiara bersayap) merupakan penghasil mutiara oriental yang berasal dari Teluk Persia, Laut Merah dan Sri Lanka







Lalu bagaimana membedakan mutiara sintetis dengan mutiara asli?
1.Gigit mutiara tersebut, jika terasa licin dan kadang terkelupas lapisan luarnya berarti itu mutiara sintetis. Jika mutiara asli saat digigit akan terasa berpasir kadang terasa ngilu dan permukaanya masih tetap mulus.
2.Sebagian jenis mutiara sintetis semakin lama permukaan email atau luarnya akan mengelupas.
3.Pada bagian lubang mutiara sintetis, terdapat bagian yang tidak tertutup lapisan pewarna atau ada juga lapisan luarnya yang terkelupas
4.Gesek pada permukaan kasar dan keras mutiara tersebut, mutiara sintetis permukaan luarnya akan memudar atau mengelupas
5.Cara terakhir, bakar mutiara tersebut. Jika terbakar, mutiara asli tidak akan meleleh bagian dalamnya maupun lapisan luarnya. (ingat!! Ini cara terakhir ya)


Panduan untuk membeli mutiara budidaya:
Warna : Tentukan dulu warna yang akan dipilih, saat ini berbagai macam warna terdapat dipasaran, dari warna-warna alami putih, cream, pastel dan hitam hingga ditambah warna buatan seperti ungu, biru, hijau dan lainnya. Akan lebih baik memilih warna putih atau cream, yang memberi kesan klasik dan bisa dipasangkan dengan segala warna baju.
Berat: Mutiara budidaya tidak dapat ditentukan dari beratnya, karena mutiara tersebut adalah hasil dari pemasukan inti (kalau inti nya logam pasti lebih berat hailnya dibandingkan inti dari plastic ^_^ )
Kilapan: Mutiara yang bercahaya dan berkilau mempunyai lapisan nacre* yang tebal, bermutu tinggi dan tahan lama.
Permukaan: Mutiara yang bermutu tinggi permukaannya halus tanpa cacat dan tertutup nacre*
Ukuran: Semakin besar, semakin mahal harganya
Bentuk: Mutiara berbentuk bulat mulus paling baik dan mahal daripada bentuk baroque, tetes air dan lainnya
*Nacre: zat kapur dengan unsur dasar karbon yang jernih yang dikeluarkan oleh suatu kerang-kerangan sebagai alat mempertahankan diri dalam melawan zat asing (pengganggu) yang masuk ke dalam badannya.

Cara perawatanya:
- Hindari sebisanya dari sabun, pewangi, kosmetik dan produk kimia lainnya. Jika terkena segera bilas sebentar dengan air bersih dan keringkan segera.
- Cukup dengan cara di lap kain lembut (khusus seperti untuk kacamata) sebelum disimpang kembali setelah dipakai
- Jangan campurkan dengan aksesoris lain, akan lebih baik jika memiliki wadah/kantong tersendiri
- Untuk perawatan, jika dirangkai dengan tali, ganti talinya 2-3 tahun sekali, untuk menghindari debu dan kotoran

Tuesday, February 1, 2011

pengertian seni kriya

Seni kriya adalah cabang seni yang menekankan pada ketrampilan tangan yang tinggi dalam proses pengerjaannya. Seni kriya berasal dari kata “Kr” (bhs Sanskerta) yang berarti ‘mengerjakan’, dari akar kata tersebut kemudian menjadi karya, kriya dan kerja. Dalam arti khusus adalah mengerjakan sesuatu untuk menghasilkan benda atau obyek yang bernilai seni” (Prof. Dr. Timbul Haryono: 2002).

Dalam pergulatan mengenai asal muasal kriya Prof. Dr. Seodarso Sp dengan mengutif dari kamus, mengungkapkan “perkataan kriya memang belum lama dipakai dalam bahasa Indonesia; perkataan kriya itu berasal dari bahasa Sansekerta yang dalam kamus Wojowasito diberi arti; pekerjaan; perbuatan, dan dari kamus Winter diartikan sebagai ‘demel’ atau membuat”. (Prof. Dr. Soedarso Sp, dalam Asmudjo J. Irianto, 2000)

Sementara menurut Prof. Dr. I Made Bandem kata “kriya” dalam bahasa indonesia berarti pekerjaan (ketrampilan tangan). Di dalam bahasa Inggris disebut craft berarti energi atau kekuatan. Pada kenyataannya bahwa seni kriya sering dimaksudkan sebagai karya yang dihasilkan karena skill atau ketrampilan seseorang”. (Prof. Dr. I Made Bandem, 2002)

Dari tiga uraian ini dapat ditarik satu kata kunci yang dapat menjelaskan pengertian kriya adalah; kerja, pekerjaan, perbuatan, yang dalam hal ini bisa diartikan sebagai penciptaan karya seni yang didukung oleh ketrampilan (skill) yang tinggi.

Seperti telah disinggung diawal bahwa istilah kriya digali khasanah budaya Indonesia tepatnya dari budaya Jawa tinggi (budaya yang berkembang di dalam lingkup istana pada sistem kerajaan). Denis Lombard dalam bukunya Nusa Jawa: Silang budaya, menyatakan ‘istilah kriya yang diambil dari kryan menunjukkan pada hierarki strata pada masa kerajaan Majapahit, sebagai berikut; “Pertama-tama terdapat para mantri, atau pejabat tinggi serta para arya atau kaum bangsawan, lalu para kryan yang berstatus kesatriya dan para wali atau perwira, yang tampaknya juga merupakan semacam golongan bangsawan rendah’. (Denis Lombard dalam Prof. SP. Gustami, 2002)

Menyimak pendapat Prof. SP. Gustami yang menguraikan bahwa; seni kriya merupakan warisan seni budaya yang adi luhung, yang pada zaman kerajaan di Jawa mendapat tempat lebih tinggi dari kerajinan. Seni kriya dikonsumsi oleh kalangan bangsawan dan masyarakat elit sedangkan kerajinan didukung oleh masyarakat umum atau kawula alit, yakni masyarakat yang hidup di luar tembok keraton. Seni kriya dipandang sebagai seni yang unik dan berkualitas tinggi karena didukung oleh craftmanship yang tinggi, sedangkan kerajinan dipandang kasar dan terkesan tidak tuntas. Bedakan pembuatan keris dengan pisau baik proses, bahan, atau kemampuan pembuatnya.

Lebih lanjut Prof. SP. Gustami menjelaskan perbedaan antara kriya dan kerajinan dapat disimak pada keprofesiannya, kriya dimasa lalu yang berada dalam lingkungan istana untuk pembuatnya diberikan gelar Empu. Dalam perwujudannya sangat mementingkan nilai estetika dan kualitas skill. Sementara kerajinan yang tumbuh di luar lingkungan istana, si-pembuatnya disebut dengan Pandhe. Perwujudan benda-benda kerajinan hanya mengutamakan fungsi dan kegunaan yang diperuntukkan untuk mendukung kebutuhan praktis bagi masyarakat (rakyat). (Prof. SP. Gustami, 2002) Pengulangan dan minimnya pemikiran seni ataupun estetika adalah satu ciri penanda benda kerajinan.

Pemisahan yang berdasarkan strata atau kedudukan tersebut mencerminkan posisi dan eksistensi seni kriya di masa lalu. Seni kriya bukanlah karya yang dibuat dengan intensitas rajin semata, di dalamnya terkandung nilai keindahan (estetika) dan juga kualitas skill yang tinggi. Sedangkan kerajinan tumbuh atas desakan kebutuhan praktis dengan mempergunakan bahan yang tersedia dan berdasarkan pengalaman kerja yang diperoleh dari kehidupan sehari-hari.

Kembali ditegaskan oleh Prof. SP. Gustami: seni kriya adalah karya seni yang unik dan punya karakteristik di dalamnya terkandung muatan-muatan nilai estetik, simbolik, filosofis dan sekaligus fungsional oleh karena itu dalam perwujudannya didukung craftmenship yang tinggi, akibatnya kehadiran seni kriya termasuk dalam kelompok seni-seni adiluhung (Prof. SP.Gustami, 1992:71).

Uraian tadi menyiratkan bahwa kriya merupakan cabang seni yang memiliki muatan estetik, simbolik dan filosofis sehingga menghadirkan karya-karya yang adiluhung dan munomental sepanjang jaman. Praktek kriya pada masa lalu dibedakan dari kerajinan, kriya berada dalam lingkup istana (kerajaan) pembuatnya diberi gelar Empu. Sedangkan kerajinan yang berakar dari kata “rajin” berada di luar lingkungan istana, dilakoni oleh rakyat jelata dan pembuatnya disebut pengerajin atau pandhe.

Dari beberapa pendapat yang telah dibahas sebelumnya menjelaskan bahwa wujud awal seni kriya lebih ditujukan sebagai seni pakai (terapan). Praktek seni kriya pada awalnya bertujuan untuk membuat barang-barang fungsional, baik ditujukan untuk kepentingan keagamaan (religius) atau kebutuhan praktis dalam kehidupan manusia seperti; perkakas rumah tangga. Contohnya dapat kita saksikan pada dari artefak-artefak berupa kapak dan perkakas pada jaman batu serta peninggalan-peninggalan dari bahan perunggu pada jaman logam berupa; nekara, moko, candrasa, kapak, bejana, hingga perhiasan seperti; gelang, kalung, cincin. Benda-benda tersebut dipakai sebagai perhiasan, prosesi upacara ritual adat (suku) serta kegiatan ritual yang bersifat kepercayaan seperti; penghormatan terhadap arwah nenek moyang.

Masuknya agama Hindu dan Budha memberikan perubahan tidak saja dalam hal kepercayaan, tetapi juga pada sistem sosial dalam masyarakat. Struktur pemerintahan kerajaan dan sistem kasta menimbulkan tingkatan status sosial dalam masyarakat. Masuknya pengaruh Hindu–Budha di Indonesia terjadi akibat asimilasi serta adaptasi kebudayaan Hindu-Budha India yang dibawa oleh para pedagang dan pendeta Hindu-Budha dari India dengan kebudayaan prasejarah di Indonesia. Kedua sistem keagamaan ini mengalami akulturasi dengan kepercayaan yang sudah ada sebelumnya di Indonesia yaitu pengkultusan terhadap arwah nenek moyang, dan kepercayaan terhadap spirit yang ada di alam sekitar. Kemudian kerap tumpang tindih dan bahkan terpadu ke dalam pemujaan-pemujaan sinkretisme Hindu-Budha Indonesia. (Claire Holt diterjemahkan oleh RM. Soedarsono, 2000)

Tumbuh dan berkembangnya kebudayan Hindu-Budha di Indonesia kemudian melahirkan kesenian berupa seni ukir dengan beraneka ragam hias, dan patung perwujudan dewa-dewa. Dalam sistem sosial kemudian lahir sistem pemerintahan kerajaan yang berdasarkan kepada kepercayaan Hindu seperti kerajaan Sriwijaya di Sumatra, kerajaan Kutai di Kalimantan, kerajaan Tarumanagara di Jawa Barat, Mataram Kuno Jawa Tengah. Hingga kerajaan Majapahit di Jawa Timur dengan maha patih Gajah Mada yang tersohor, yang kemudian membawa pengaruh Hindu ke Bali. Seni ukir tradisional masih diwarisi hingga saat ini.

Peran seni kriyapun menjadi semakin berkembang tidak saja sebagai komponen dalam hal kepercayaan/agama, namun juga menjadi konsumsi golongan elit bangsawan yaitu sebagai penanda status kebangsawanan. Kondisi tersebut menjadikan kriya sebagai seni yang bersifat elitis karena menduduki posisi terhormat pada masanya, berbeda dengan kerajinan yang cenderung tumbuh pada kalangan masyarakat biasa atau golongan rendah.

Akan tetapi keadaannya berbeda pada masa modern, dimana tingkatan sosial seperti pada masa kerajaan yang disebut “kasta” sudah tidak lagi eksis. Kalaupun ada tingkatan sosial kini tidak lagi berdasarkan “kasta” atau kebangsawanan yang dimiliki oleh seseorang, akan tetapi kemapanan ekonomi kini menjadi penanda bagi status seseorang. Artinya tarap ekonomi yang dimiliki seseorang dapat membedakan posisi mereka dari orang lain, secara sederhana kekuasan sekarang ditentukan oleh kemampuan ekonomi yang dimiliki seseorang. Dalam sistem masyarakat modern kondisinya telah berubah kaum elit yang dulunya ditempati oleh kaum bangsawan (ningrat), sekarang digantikan kalangan konglomerat (pemilik modal). Kondisi ini membawa dampak bagi pada posisi kriya, karena kini kriya mulai kehilangan struktur sosial yang menopang eksistensinya seperti pada masa lalu.

Situasi ini menjadikan kriya tidak lagi menjadi seni yang spesial karena posisi terhormatnya di masa lalu kini sudah terancam tidak eksis lagi, kriya kini menjadi sebuah artefak warisan masa lalu. Terlebih lagi dalam industri budaya seperti sekarang kedudukan kriya kini tidak lebih sebagai obyek pasar, yang diproduksi secara masal dan diperjualbelikan demi kepentingan ekonomi. Kriya kini mengalami desakralisasi dari posisi yang terhormat di masa lalu, yang adiluhung merupakan artefak yang tetap dihormati namun sekaligus juga direduksi dan diproduksi secara terus-menerus.

Kehadiran kriya pada jenjang pendidikan adalah sebuah upaya mengangkat kriya dari hanya sebagai artefak, untuk menjadikannya sebagai seni yang masih bisa eksis dan terhormat sekaligus mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan jaman. Inilah tugas berat insan kriya kini. Dalam perkembangan selanjutnya sejalan dengan perkembangan jaman, konsep kriyapun terus berkembang. Perubahan senantiasa menyertai setiap gerak laju perkembangan zaman, praktek seni kriya yang pada awalnya sarat dengan nilai fungsional, kini dalam prakteknya khususnya di akademis seni kriya mengalami pergeseran orientasi penciptaan. Kriya kini menjelma menjadi hanya pajangan semata dengan kata lain semata-mata seni untuk seni. Pergerakan ini kemudian melahirkan kategori-kategori dalam tubuh kriya, kategori tersebut antara lain kriya seni, dan desain kriya.